August 29, 2025, 3:22 pm

Obesitas & “Maag”: Hubungan Keduanya dan Cara Menanganinya

Obesitas & “Maag”: Hubungan Keduanya dan Cara Menanganinya
Dalam praktik klinis di Indonesia, istilah “maag” kerap digunakan untuk menggambarkan keluhan di ulu hati—mulai dari dispepsia/“gastritis”, penyakit refluks gastroesofagus (GERD), hingga tukak lambung. Penyebutannya longgar, tetapi keluhannya serupa: nyeri/terbakar di ulu hati, mual, kembung, cepat kenyang, perih, atau regurgitasi asam.

Di sisi lain, obesitas bukan sekadar kelebihan berat; ini adalah kondisi medis yang mengubah tekanan di dalam perut, hormon, serta pola makan dan aktivitas, sehingga memperbesar risiko dan memperberat gejala “maag,” terutama GERD. Panduan GERD modern secara tegas merekomendasikan penurunan berat badan pada pasien overweight/obesitas untuk memperbaiki gejala.

Artikel ini akan menjelaskan mengapa obesitas dapat memperparah “maag,” lalu merinci strategi aman menurunkan berat badan bagi penderita keluhan lambung/refluks—mulai dari diet, perilaku, aktivitas fisik, hingga obat dan operasi, dengan penekanan pada keamanan saluran cerna.

Mengapa obesitas “mengundang” keluhan lambung?


1) Peningkatan tekanan dalam rongga perut


Lemak visceral (perut) menaikkan tekanan intra-abdomen. Pada seseorang dengan katup kerongkongan bawah (LES) yang tidak optimal, lonjakan tekanan ini mendorong asam lambung naik ke kerongkongan. Pada keadaan tertentu—misalnya ada hernia hiatus—mekanisme perlindungan semakin melemah sehingga refluks makin sering.

2) Gradien tekanan & posisi LES


Sejumlah telaah menjelaskan bahwa obesitas meningkatkan gradien tekanan gastro-esofagus serta dapat “menggeser” posisi LES, memudahkan refluks. Dengan kata lain, semakin sentral obesitasnya (lingkar perut besar), semakin tinggi risiko GERD.

3) Bukti epidemiologis


Meta-analisis dan studi populasi menunjukkan obesitas meningkatkan risiko gejala GERD dan esofagitis erosif; bahkan berkontribusi pada risiko adenokarsinoma esofagus melalui jalur refluks kronik.

4) Dispepsia/“gastritis” fungsional


Hubungan obesitas dengan dispepsia (rasa tidak nyaman di ulu hati tanpa luka) juga dilaporkan: beberapa studi menemukan hubungan positif antara BMI dan gejala dispepsia meski data tidak selalu konsisten lintas populasi. Artinya, pada sebagian pasien, beban lemak perut dapat berperan dalam keluhan “maag” yang bukan semata refluks.
Intinya: Tekanan perut meningkat + fungsi katup melemah + kebiasaan makan berlebih/larut malam = kombinasi yang membuat keluhan “maag” lebih sering, lebih berat, dan lebih sulit pulih jika berat badan tidak ditangani.

Penurunan berat badan: intervensi kunci untuk mengatasi “maag” pada obesitas


Pedoman GERD terkini dari American College of Gastroenterology (ACG) merekomendasikan penurunan berat badan pada pasien overweight/obesitas karena terbukti memperbaiki gejala. Bahkan, uji prospektif menunjukkan penurunan berat badan selama 6 bulan berkorelasi dengan perbaikan atau resolusi gejala GERD pada mayoritas pasien.

Target realistis


Turun 5–10% dari berat awal dalam 3–6 bulan pertama sering sudah terasa di gejala. • Fokus pada defisit kalori moderat (±500 kkal/hari) yang berkelanjutan, bukan diet sangat ketat yang memicu kekambuhan “maag”.

Rencana aman menurunkan berat badan untuk penderita “maag”


1) Diet ramah lambung & anti-refluks


Prinsipnya: porsi kecil-sering, rendah lemak jenuh, tinggi serat lembut, dan hindari makan larut malam.Komponen kunci
  • Atur waktu makan: hindari makan dalam 2–3 jam sebelum tidur; jangan langsung rebahan setelah makan. Tinggikan kepala tempat tidur (bisa dengan wedge pillow) bila ada refluks malam hari.
  • Porsi kecil, sering: 3 porsi utama + 1–2 snack ringan. Porsi besar akan meningkatkan tekanan intragastrik.
  • Pilih pola “Mediterania-ish”: dominan sayur, buah non-asam, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, minyak zaitun; protein lean (ikan/ayam tanpa kulit/tempe-tahu), serta lemak sehat dalam jumlah wajar. Beberapa studi observasional mengaitkan pola Mediterania dengan lebih sedikit gejala GERD.
  • Rendah lemak di tiap makan (lemak tinggi memperlambat pengosongan lambung, memicu refluks).
  • Minimasi pemicu personal: pedas, gorengan, cokelat, kopi, alkohol, minuman berkarbonasi—uji secara bertahap karena respons tiap orang berbeda (pendekatan berbasis gejala sesuai AGA).
  • Hidrasi cukup, hindari minum banyak sekaligus saat makan besar.
  • Catatan khusus “gastritis”/dispepsia: pilih buah kurang asam (pisang, pepaya), sayur matang (kukus/tumis ringan), bubur/oat; batasi cuka/cabai saat fase sensitif.
Contoh sehari (ringkas)
  • Pagi: oat + pisang + yoghurt rendah lemak.
  • Snack: segenggam kacang almond/edamame.
  • Siang: nasi merah porsi kecil + dada ayam panggang + tumis bayam + 1 sdm minyak zaitun.
  • Snack: buah pepaya/kue beras kukus.
  • Sore/malam (≥3 jam sebelum tidur): sup bening + ikan kukus + kentang rebus porsi kecil + sayur kukus.
  • Minum: air putih; hindari soda terutama malam.

2) Aktivitas fisik progresif

  • 150–300 menit/minggu aktivitas aerobik intensitas ringan-sedang (jalan cepat/sepeda statis), ditambah 2–3 sesi latihan kekuatan.
  • Hindari olah raga perut berat tepat setelah makan. Beri jarak minimal 2–3 jam.
  • Aktivitas harian kecil (naik tangga, jalan singkat setelah makan siang) membantu pengendalian berat sekaligus mengurangi refluks karena posisi tegak.

3) Intervensi perilaku

  • Catatan makan & gejala: identifikasi pemicu personal.
  • Mindful eating: kunyah perlahan, stop sebelum kenyang penuh.
  • Pakaian longgar di area pinggang, terutama setelah makan malam.

4) Terapi medis untuk “maag” sambil diet

  • PPI (omeprazole, dll.) sering diperlukan sementara untuk meredakan fase aktif GERD/“maag”, sembari program penurunan berat badan berjalan. Ini sesuai lini terapi GERD/dyspepsia—dikombinasikan dengan uji & terapi Helicobacter pylori pada dispepsia tertentu.
  • Evaluasi alarm sign: muntah berulang, BAB hitam, anemia, penurunan BB tak sengaja, disfagia, riwayat keluarga kanker—perlu endoskopi menurut usia/risiko.

5) Farmakoterapi obesitas (bila perubahan gaya hidup belum cukup)


Obat-obat antiobesitas yang disetujui (mis. semaglutide, liraglutide, phentermine/topiramate, bupropion/naltrexone, dan lain-lain) terbukti menurunkan berat badan saat dipadukan dengan intervensi gaya hidup. GLP-1 receptor agonist (semaglutide) umumnya paling efektif, tetapi bisa menimbulkan mual dan memperlambat pengosongan lambung—perlu kehati-hatian pada pasien dengan refluks berat atau gastroparesis. Obat dipilih dan diawasi dokter, terutama bila ada keluhan “maag.”
Catatan praktis: Efek obat bertahan selama dionsumsi; hentikan → berat cenderung naik lagi. Obat bukan pengganti pola makan & aktivitas—melainkan pelengkap dalam program komprehensif.

6) Bedah metabolik (bariatrik) pada obesitas derajat tinggi


Pada BMI ≥40 atau ≥35 dengan komorbid, operasi metabolik dapat dipertimbangkan. Terkait GERD:
  • Roux-en-Y gastric bypass (RYGB) umumnya memperbaiki GERD dan kerap dipilih pada pasien obesitas dengan refluks bermakna.
  • Sleeve gastrectomy (SG) sangat efektif untuk penurunan berat, tetapi lebih sering memunculkan GERD de-novo atau memperburuk refluks dibanding RYGB dalam sebagian data jangka panjang. Pilihan teknik harus individualized.

Bagaimana dengan Helicobacter pylori?


Pada pasien dispepsia usia <60 tahun, pedoman ACG/CAG menganjurkan uji non-invasif H. pylori dan eradikasi bila positif. Hubungan antara H. pylori dan obesitas sendiri bervariasi antar studi (ada yang positif, ada yang tidak konsisten). Artinya, uji & terapi H. pylori tetap diputuskan berdasarkan gejala dan kebijakan klinis, bukan semata karena obesitas.

Ringkasan rencana 6 langkah (praktis)

  1. Pastikan diagnosis: bedakan GERD vs dispepsia/tukak; skrining H. pylori sesuai pedoman; nilai tanda bahaya.
  2. Mulai penurunan berat: target 5–10% dalam 3–6 bulan; defisit kalori wajar, pola “Mediterania-ish” rendah lemak, porsi kecil-sering.
  3. Kebiasaan anti-refluks: hindari makan 2–3 jam sebelum tidur, kepala tempat tidur ditinggikan, catat pemicu individual.
  4. Aktivitas fisik: 150–300 menit/minggu aerobik ringan-sedang + latihan beban 2–3 kali/minggu; hindari olahraga berat segera setelah makan.
  5. Terapi gejala: PPI/H2-blocker sesuai kebutuhan jangka pendek; edukasi kepatuhan & evaluasi ulang.
  6. Bila perlu: farmakoterapi antiobesitas dengan pengawasan (waspadai mual/keluhan lambung); pertimbangkan RYGB bila BMI tinggi + GERD berat.

FAQ


1) Apakah obesitas selalu menyebabkan GERD/“maag”?
Tidak selalu, tetapi risikonya lebih tinggi. Lemak perut meningkatkan tekanan intra-abdomen sehingga asam lebih mudah naik ke kerongkongan.

2) Kalau saya menurunkan berat badan, apakah keluhan pasti hilang?
Sering kali ya, membaik—bahkan sebagian pasien remisi—tetapi respons bervariasi. Ada studi prospektif yang menunjukkan perbaikan signifikan gejala GERD setelah program diet 6 bulan.

3) Diet apa yang aman untuk lambung dan sekaligus efektif menurunkan berat?
Pola makan rendah lemak jenuh, tinggi sayur-buah non-asam, biji-bijian, protein lean dengan porsi kecil-sering. Pola Mediterania sering dikaitkan dengan lebih sedikit gejala GERD, namun tetap personalisasi sesuai toleransi.

4) Benarkah harus berhenti makan 2–3 jam sebelum tidur?
Betul. Hindari makan menjelang tidur dan tinggikan kepala tempat tidur untuk mengurangi refluks malam hari—rekomendasi konsisten dalam pedoman GERD.

5) Apakah obat antiobesitas aman untuk penderita “maag”?
Bisa digunakan dengan pemilihan cermat. GLP-1 RA (mis. semaglutide) efektif menurunkan berat, tetapi dapat menimbulkan mual dan memperlambat pengosongan lambung, sehingga perlu pemantauan pada pasien dengan keluhan lambung berat. Diskusikan dengan dokter untuk titrasi dosis dan pemilihan obat.

6) Mana yang lebih baik untuk GERD: sleeve atau bypass?
Secara umum, Roux-en-Y gastric bypass cenderung lebih bersahabat untuk GERD; sleeve dapat memunculkan GERD baru pada sebagian pasien. Pilihan bergantung pada profil individual dan evaluasi tim bariatrik.

7) Apakah saya perlu tes H. pylori?
Pada dispepsia usia <60 tahun, pedoman menyarankan uji H. pylori dan terapi bila positif. Keputusan dibuat dokter setelah menilai gejala & faktor risiko.

8) Bagaimana mengatur olahraga bila saya sering “perih” setelah makan?
Beri jeda ≥2–3 jam setelah makan sebelum olahraga intens. Pilih jalan santai/aktivitas ringan lebih dulu; tingkatkan perlahan.

Penutup


Obesitas dan “maag” saling berkaitan, terutama melalui mekanisme peningkatan tekanan perut yang memudahkan refluks. Kabar baiknya, penurunan berat badan adalah terapi inti yang terbukti membantu meredakan keluhan, terutama GERD, bila dilakukan aman dan berkelanjutan. Mulailah dengan pola makan “ramah lambung”, pembiasaan anti-refluks, dan aktivitas fisik bertahap. Jika diperlukan, farmakoterapi antiobesitas dan, pada kasus tertentu, bedah metabolik dapat dipertimbangkan melalui diskusi dengan dokter.
Artikel ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi langsung. Bila Anda memiliki gejala berat, tanda bahaya, atau penyakit penyerta, periksakan diri ke dokter untuk evaluasi dan rencana terapi yang dipersonalisasi.
Rujukan kunci yang mendasari rekomendasi di atas: pedoman ACG 2022 untuk GERD (menekankan penurunan berat & modifikasi perilaku), panduan ACG/CAG 2017 untuk dispepsia (uji & terapi H. pylori), data prospektif bahwa penurunan berat memperbaiki gejala GERD, serta bukti bedah metabolik bahwa RYGB lebih konsisten memperbaiki GERD dibanding sleeve pada jangka panjang.
Blog Post Lainnya
Obesitas & “Maag”: Hubungan Keduanya dan Cara Menanganinya
Obesitas & “Maag”: Hubungan Keduanya dan Cara MenanganinyaAug 29, 2025Dalam praktik klinis di Indonesia, istilah “maag” kerap digunakan untuk menggambarkan keluhan di ulu hati—mulai dari dispepsia/“gastritis”, penyakit refluks gastroesofagus (GERD), hingga tukak
Operasi Antirefluks (Anti-Reflux Surgery): Indikasi, Prosedur, Hasil, dan Risiko
Operasi Antirefluks (Anti-Reflux Surgery): Indikasi, Prosedur, Hasil, dan RisikoAug 28, 2025Operasi antirefluks adalah tindakan untuk memperbaiki katup antara kerongkongan dan lambung agar aliran balik asam (GERD) berhenti. Kandidat yang tepat adalah pasien dengan GERD yang terbukti secara
Barrett’s Esophagus: definisi, kaitan dengan GERD, risiko kanker, skrining–terapi, pencegahan, dan FAQ
Barrett’s Esophagus: definisi, kaitan dengan GERD, risiko kanker, skrining–terapi, pencegahan, dan FAQAug 27, 2025Ringkasnya. Barrett’s esophagus (BE) adalah perubahan lapisan sel di bagian bawah esofagus (metaplasia usus) akibat paparan refluks asam/empedu yang menahun. Kondisi ini meningkatkan risiko
`Show More
-
-
Dapatkan Heion Ashwagandha+ di marketplace favorit kamu
-
Social Media
Contact Us
62 8784-7365-360
ask.dailyheion@gmail.com
Disclaimer
Hasil yang didapatkan setiap individu bisa berbeda-beda, semua itu tergantung dari kondisi tubuh dan metabolisme masing-masing.
-
@2025 Heion Inc.