August 30, 2025, 9:18 pm

Ulkus Duodenum: Panduan Lengkap dari Dokter Pencernaan—Gejala, Penyebab, Diagnosis, Terapi, dan Pencegahan

Ulkus Duodenum: Panduan Lengkap dari Dokter Pencernaan—Gejala, Penyebab, Diagnosis, Terapi, dan Pencegahan
Sebagai dokter yang sehari-hari menangani keluhan “maag”, nyeri perut, dan gangguan organ pencernaan bagian atas, saya sering menjelaskan bahwa ulkus duodenum adalah luka pada lapisan dinding duodenum (bagian pertama usus halus tepat setelah lambung). 

Ia termasuk dalam kelompok penyakit tukak peptik bersama tukak lambung. Keluhan paling khas adalah nyeri ulu hati yang sering membaik setelah makan dan bisa kambuh di malam hari. Komplikasi yang perlu diwaspadai meliputi perdarahan saluran cerna, perforasi (bocor), dan sumbatan (obstruksi) pada pintu keluar lambung. 

Inti Masalah: Mengapa Terjadi Ulkus Duodenum?


Dua penyebab utama

  1. Infeksi Helicobacter pylori (H. pylori). Bakteri ini hidup di mukosa lambung. Pada sebagian orang, kolonisasi dominan di antrum lambung memicu peningkatan hormon gastrin dan penurunan somatostatin—kombinasi yang meningkatkan produksi asam, sehingga duodenum terekspos asam berlebih dan mudah terluka. Setelah eradikasi H. pylori, sekresi asam cenderung kembali normal.
  2. Obat anti-nyeri golongan NSAID (misalnya ibuprofen, naproksen, aspirin). NSAID menghambat COX-1 sehingga menurunkan prostaglandin pelindung mukosa; akibatnya, aliran darah mukosa dan sekresi bikarbonat/mukus berkurang—membuka jalan bagi asam untuk mengikis dinding. Risiko meningkat pada pemakaian dosis tinggi, usia lanjut, atau riwayat ulkus. 

Faktor yang saling memperkuat


Bila H. pylori dan NSAID hadir bersamaan, risiko tukak dan perdarahan meningkat secara sinergis (lebih dari enam kali lipat dibanding tanpa keduanya). Karena itu, pada pengguna NSAID jangka panjang, strategi skrining dan pencegahan sangat penting. 

Gejala yang Perlu Anda Kenali

  • Nyeri epigastrium (ulu hati) yang bisa membaik setelah makan; sebagian pasien justru merasa nyeri meningkat saat perut kosong atau malam hari.
  • Kembung, mual, kadang muntah.
  • Tanda bahaya (alarm): muntah darah/“kopi”, BAB hitam (melena), pusing/lemas (anemia), berat badan turun, muntah berulang, sulit menelan, atau nyeri tiba-tiba sangat hebat (curiga perforasi). Gejala-gejala ini memerlukan endoskopi dan penanganan segera. 
Komplikasi utama adalah perdarahan, perforasi, dan obstruksi outlet lambung/duodenum. Kelompok ini perlu tata laksana rumah sakit dan sering memerlukan endoskopi atau tindakan bedah. 

Bagaimana Dokter Menegakkan Diagnosis?

  1. Endoskopi atas (EGD). Ini adalah cara paling langsung untuk melihat tukak, menilai risiko perdarahan, dan mengambil sampel bila perlu. Tukak duodenum hampir tidak pernah ganas, sehingga biopsi rutin tidak dianjurkan; berbeda dengan tukak lambung yang sering tetap dibiospsi/diikuti ulang. 
  2. Pemeriksaan H. pylori.
  • Non-invasif: urea breath test atau antigen tinja—akurat dan menjadi pilihan utama bila tidak ada indikasi endoskopi. Hentikan PPI 2 minggu dan antibiotik/bismut 4 minggu sebelum tes agar hasilnya tidak palsu-negatif. Setelah terapi, wajib uji “test-of-cure” ≥4 minggu sesudah antibiotik dan setelah off PPI/PCAB ≥2 minggu
  • Invasif saat EGD: tes urease cepat, histologi, atau kultur dari biopsi mukosa. 

Prinsip Terapi: Apa yang Dilakukan Dokter?

A. Ulkus duodenum tanpa komplikasi

  • PPI (penghambat pompa proton) mempercepat penyembuhan; >90% tukak duodenum sembuh dalam ±4 minggu PPI. Pastikan eradikasi H. pylori jika terdeteksi—ini yang paling menurunkan kekambuhan. 
  • H. pylori eradication: Regimen lini-pertama saat ini adalah bismuth-based quadruple therapy (BQT) 14 hari: PPI 2×/hari + bismut + tetracycline 500 mg 4×/hari + metronidazol 500 mg 3–4×/hari. Hindari “triple therapy” klaritromisin secara empiris kecuali ada uji kepekaan yang pasti sensitif. Sesudahnya, lakukan test-of-cure seperti di atas.
  • Kalau H. pylori tidak ada: teruskan PPI 4–8 minggu, evaluasi faktor risiko lain (terutama NSAID/aspirin terselubung), dan modifikasi gaya hidup. 

B. Ulkus terkait NSAID/aspirin

  • Hentikan NSAID bila memungkinkan. Jika harus dilanjutkan, gunakan COX-2 selective (misalnya celecoxib) + PPI atau misoprostol untuk gastroproteksi; strategi ini menurunkan kejadian tukak/komplikasi. Uji dan obati H. pylori juga direkomendasikan. 

C. Ulkus dengan perdarahan

  • Resusitasi dahulu, kemudian endoskopi dalam 24 jam untuk diagnosis dan terapi (klip/termal ± adrenalin; bubuk hemostatik/OTSC pada kasus tertentu). Setelah hemostasis, berikan PPI dosis tinggi selama 72 jam (kontinu atau intermiten), disusul PPI oral 2×/hari sampai 2 minggu. Rekomendasi ini menurunkan rebleeding dan mortalitas. Jika gagal, embolisasi arteri sebelum pembedahan adalah opsi.

D. Perforasi atau obstruksi

  • Perforasi (nyeri mendadak sangat hebat, tanda peritonitis) umumnya memerlukan pembedahan; sebagian kecil perforasi “tertutup” dapat tertangani konservatif pada kasus terpilih. Obstruksi akibat jaringan parut bisa dibantu dilatasi balon endoskopik

E. Tukak “bandel” (refrakter)

  • Didefinisikan bila tidak sembuh setelah 8–12 minggu PPI. Cek ulang kepatuhan obat, pajanan NSAID tersembunyi, merokok, status H. pylori (ulang test-of-cure), dan pertimbangkan hipersekresi asam (gastrinoma/Zollinger–Ellison) terutama bila tukak jauh dari bulbus

Mengapa Eradikasi H. pylori Itu Krusial?


Eradikasi yang berhasil menurunkan kekambuhan tukak secara drastis dan mengurangi rebleeding pada kasus perdarahan. Banyak uji acak dan meta-analisis menunjukkan angka kekambuhan tahunan turun tajam setelah eradikasi dibanding hanya terapi asam. Karena itu, “test-of-cure” dianjurkan pada semua pasien yang diobati. 

Perlukah Endoskopi Ulang?


Berbeda dengan tukak lambung, tukak duodenum yang tampak jinak biasanya tidak perlu endoskopi ulang bila gejala membaik dan faktor pencetus diatasi (eradikasi H. pylori, hentikan NSAID). Endoskopi ulang dipertimbangkan jika gejala menetap, ada komplikasi, atau dugaan penyebab non-peptik. 

Gaya Hidup & Pencegahan Kekambuhan

  • Hentikan merokok. Merokok dikaitkan dengan gangguan penyembuhan tukak dan meningkatkan risiko perdarahan/perforasi. 
  • Batasi alkohol. Konsumsi berat dikaitkan dengan peningkatan risiko perdarahan tukak dan memperburuk gejala, meskipun alkohol bukan penyebab utama tunggal. 
  • Gunakan analgesik bijak. Hindari NSAID bila punya riwayat ulkus; bila tak terelakkan, diskusikan COX-2 + PPI atau alternatif non-NSAID.
  • Kendalikan stres dan pola makan. Makan teratur porsi kecil, hindari pemicu gejala (kopi asam, pedas/berlemak) sesuai toleransi—ini membantu kenyamanan, meski bukan pengobatan kausal. (Prinsip edukasi klinis umum.)

Tanda-Tanda Gawat Darurat


Segera ke IGD bila Anda mengalami muntah darah, BAB hitam, pusing seperti mau pingsan, atau nyeri perut mendadak sangat hebat—ini bisa pertanda perdarahan aktif atau perforasi

Tanya Jawab (FAQ)


1) Apa beda ulkus duodenum dan “maag” biasa? “Maag” adalah istilah umum untuk keluhan lambung/ulu hati. Ulkus duodenum adalah diagnosis spesifik berupa luka di duodenum yang terlihat pada endoskopi atau dicurigai kuat secara klinis. Penyebab utama: H. pylori dan/atau NSAID. 

2) Nyeri saya hilang setelah makan—apakah ini khas ulkus duodenum? Banyak pasien ulkus duodenum melaporkan nyeri membaik dengan makan dan nyeri malam hari. Namun, pola nyeri saja tidak cukup untuk menegakkan diagnosis. 

3) Perlu endoskopi untuk semua orang? Tidak. Pada usia <60 tahun tanpa “alarm”, strategi “test & treat” H. pylori dengan urea breath test atau antigen tinja sangat dianjurkan. Endoskopi wajib bila ada tanda bahaya atau usia ≥60 tahun dengan gejala baru.

4) Kapan harus berhenti PPI sebelum tes H. pylori? Hentikan PPI selama 2 minggu dan antibiotik/bismut 4 minggu sebelum tes UBT/antigen tinja agar hasil akurat. Setelah terapi, lakukan test-of-cure ≥4 minggu pasca antibiotik dan setelah off PPI ≥2 minggu

5) Apa regimen obat H. pylori yang paling disarankan saat ini? Bismuth quadruple therapy 14 hari adalah lini pertama ketika status resistensi antibiotik tidak diketahui: PPI + bismut + tetracycline + metronidazole. Hindari terapi triple klaritromisin tanpa bukti sensitif. 

6) Bila saya harus tetap minum NSAID atau aspirin, apa yang dilakukan? Diskusikan COX-2 selective + PPI atau misoprostol sebagai pelindung mukosa. Tetap uji dan eradikasi H. pylori. Pemantauan dokter wajib. 

7) Apakah ulkus duodenum bisa jadi kanker? Praktis sangat jarang. Karena itu biopsi rutin tidak perlu pada tukak duodenum yang tampak jinak; berbeda dengan tukak lambung. 

8) Kalau ulkus saya sempat berdarah, bagaimana perawatannya? Diperlukan endoskopi untuk hemostasis dan PPI dosis tinggi 72 jam, kemudian PPI 2×/hari selama 2 minggu. Bila rebleeding, evaluasi ulang endoskopi; bila tetap gagal, embolisasi arteri dipertimbangkan. 

9) Kapan saya perlu endoskopi ulang? Tidak rutin pada tukak duodenum yang membaik. Lakukan bila keluhan menetap, ada komplikasi, atau ada kecurigaan penyebab lain. Tukak lambung lebih sering memerlukan follow-up endoskopi. 

10) Apa peran berhenti merokok dan membatasi alkohol? Keduanya membantu mempercepat penyembuhan dan menurunkan risiko perdarahan/komplikasi
Blog Post Lainnya
Ulkus Duodenum: Panduan Lengkap dari Dokter Pencernaan—Gejala, Penyebab, Diagnosis, Terapi, dan Pencegahan
Ulkus Duodenum: Panduan Lengkap dari Dokter Pencernaan—Gejala, Penyebab, Diagnosis, Terapi, dan PencegahanAug 30, 2025Sebagai dokter yang sehari-hari menangani keluhan “maag”, nyeri perut, dan gangguan organ pencernaan bagian atas, saya sering menjelaskan bahwa ulkus duodenum adalah luka pada lapisan dinding
Obesitas & “Maag”: Hubungan Keduanya dan Cara Menanganinya
Obesitas & “Maag”: Hubungan Keduanya dan Cara MenanganinyaAug 29, 2025Dalam praktik klinis di Indonesia, istilah “maag” kerap digunakan untuk menggambarkan keluhan di ulu hati—mulai dari dispepsia/“gastritis”, penyakit refluks gastroesofagus (GERD), hingga tukak
Operasi Antirefluks (Anti-Reflux Surgery): Indikasi, Prosedur, Hasil, dan Risiko
Operasi Antirefluks (Anti-Reflux Surgery): Indikasi, Prosedur, Hasil, dan RisikoAug 28, 2025Operasi antirefluks adalah tindakan untuk memperbaiki katup antara kerongkongan dan lambung agar aliran balik asam (GERD) berhenti. Kandidat yang tepat adalah pasien dengan GERD yang terbukti secara
`Show More
-
-
Dapatkan Heion Ashwagandha+ di marketplace favorit kamu
-
Social Media
Contact Us
62 8784-7365-360
ask.dailyheion@gmail.com
Disclaimer
Hasil yang didapatkan setiap individu bisa berbeda-beda, semua itu tergantung dari kondisi tubuh dan metabolisme masing-masing.
-
@2025 Heion Inc.